Tampilkan postingan dengan label blora. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label blora. Tampilkan semua postingan

Kesenian Tayub Blora


     Tayuban merupakan salah satu seni kebudayaan yang ada di Blora. Berdasarkan keterangan - keterangan yang dapat dikumpulkan, perkataan Tayuban berasal dari kata Tayub, yang menurut keroto boso adalah ringkasan dari kata "ditoto guyub" dan itu adalah bahwa didalam penyajian seni tayuban gerak tari para penari serta gending iringannya diatur bersama supaya serempak berdasarkan kesepakatan dari para pemain ( penari dan penabuh ) dengan para penonton. Sehingga terwujudlah suatu keakraban dan persaudaraan. 
     Seni Tayuban menggambarkan penyambutan para tamu atau pimpinan yang dihormati oleh masyarakat menurut jenjang kepangkatan mereka masing - masing. Penyambutan itu oleh para pemain wanita yang disebut joget dengan cara menyerahkan sampur ( selendang yang dipakai penari wanita ) atas petunjuk pengarih. Tamu yang menerima sampur atau istilah "ketiban sampur" mendapatkan kehormatan untuk menari bersama - sama dengan joget. 
     Didalam kelompok seni pertunjukan, tayuban dapat digolongkan tari rakyat tradisional, sifat kerakyatan sangat menonjol, tampak sebagai gambaran dari jiwa masyarakat pendukungnya, yaitu masyarakat pedesaan yang umum dijumpai diwilayah Kabupaten Blora, seperti sifat spontanitas, kekeluagaan, kesederhanaan, sedikit kasar, namun penuh rasa humor. Sebagaimana ciri khas tari ini yang sudah memasyarakat, maka Tayuban sudah menyebar hampir seluruh Kabupaten Blora. Seni Tayuban pada umumnya dipentaskan pada upacara adat yaitu sedekah desa, sedekah bumi atau upacara adat lain. Juga pada orang punya kerja, memenuhi nadar, khitanan,perkawinan dan sebagainya.

sumber :
 http://www.blorakab.go.id/04_tayub.php

kesenian Blora Barongan

     Kesenian Barong atau lebih dikenal dengan kesenian Barongan merupakan kesenian khas Jawa Tengah. Akan tetapi dari beberapa daerah yang ada di Jawa Tengah Kabupaten Blora lah yang secara kuantitas, keberadaannya lebih banyak bila dibandingkan dengan Kabupaten lainnya. 
     Seni Barong merupakan salah satu kesenian rakyat yang amat populer dikalangan masyarakat Blora, terutama masyarakat pedesaan. Didalam seni Barong tercermin sifat-sifat kerakyatan masyarakat Blora, seperti sifat : spontanitas, kekeluargaan, kesederhanaan, kasar, keras, kompak, dan keberanian yang dilandasi kebenaran. Barongan dalam kesenian barongan adalah suatu pelengkapan yang dibuat menyerupai Singo Barong atau Singa besar sebagai penguasa hutan angker dan sangat buas.

sejarah samin (bagian 3)



SAMIN SUROSENTIKO DAN AJARANNYA

AJARAN POLITIK

      Dalam ajaran politiknya Samin Surosentiko mengajak pengikut-pengikutnya untuk melawan Pemerintahan Koloniak Belanda. Hal ini terwujud dalam sikap :
1. Penolakan membayar pajak
2. penolakan memperbaiki jalan
3. penolakan jaga malam (ronda)
4. penolakan kerja paksa/rodi
     Samin Surosentiko juga memberikan ajaran mengenai kenegaraan yang tertuang dalam Serat Pikukuh Kasajaten, yaitu sebuah Negara akan terkenal dan disegani orang serta dapat digunakan sebagai tempat berlindung rakyatnya apabila para warganya selalu memperhatikan ilmu pengetahuan dan hidup dalam perdamaian.

sejarah samin ( bagian 2 )


SAMIN SUROSENTIKO DAN AJARANNYA

AJARAN KEBATINAN
      Menurut warga Samin di Desa Tapelan, Samin Surosentiko dapat menulis dan membaca aksara Jawa, hal ini bisa dibuktikan dengan beberapa buku peninggalan Samin Surosentiko yang diketemukan di Desa Tapelan dan beberapa desa samin lainnya. Khusus di Desa Tapelan buku-bukun peninggalan Samin Surosentiko disebut SERAT JAMUSKALIMOSODO, serat Jamuskalimosodo ini ada beberapa buku.
     Di antaranya adalah buku Serat Uri-uri Pambudi, yaitu buku tentang pemeliharaan tingkah laku manusia yang berbudi. Ajaran kebatinan Samin surosentiko adalah perihal manunggaling kawulo Gusti atau sangkan paraning dumadi. Menurut Samin Surosentiko , perihal manunggaling kawulo Gusti itu dapat diibaratkan sebagai rangka umanjing curiga ( tempat keris yang meresap masuk ke dalam kerisnya )

sejarah samin ( bagian 1 )


GEGER SAMIN

     Samin Surosentiko lahir pada tahun 1859, di Desa Ploso Kedhiren, Randublatung Kabupaten Blora. Ayahnya bernama Raden Surowijaya atau lebih dikenal dengan Samin Sepuh. Nama Samin Surosentiko yang asli adalah Raden Kohar . Nama ini kemudian dirubah menjadi Samin, yaitu sebuah nama yang bernafas kerakyatan. Samin Surosentiko masih mempunyai pertalian darah dengan Kyai Keti di Rajegwesi, Bojonegoro dan juga masih bertalian darah dengan Pengeran Kusumoningayu yang berkuasa di daerah Kabupaten Sumoroto ( kini menjadi daerah kecil di Kabupaten Tulungagung) pada tahun 1802-1826.

     Pada tahun 1890 Samin Surosentiko mulai mengmbangkan ajarannya di daerah Klopoduwur, Blora. Banyak penduduk di desa sekitar yang tertarik dengan ajarannya, sehingga dalam waktu singkat sudah banyak masyarakat yang menjadi pengikutnya. Pada saat itu pemerintah Kolonial Belanda belum tertarik dengan ajarannya, karena dianggap sebagai ajaran kebatinan biasa atau agama baru yang tidak membahayakan keberadaan pemerintah kolonial. Pada tahun 1903 Residen Rembang melaporkan bahwa ada sejumlah 722 orang pengikut samin yang tersebar di 34 Desa di Blora bagian selatan dan daerah Bojonegoro. Mereka giat mengembangkan ajaran Samin. Sehingga sampai tahun 1907 orang Samin berjumlah + 5.000 orang. Pemerintah Kolonial Belanda mulai merasa was-was sehingga banyak pengikut   Samin yang ditangkap dan dipenjarakan.
    

WISATA ZIARAH BLORA


MAKAM BUPATI BLORA TEMPO DULU
Makam Bupati Blora tempo dulu terletak di Desa Ngadipurwo Kecamatan Blora + 7 Km. ke arah Utara kota Blora. Dilokasi ini terdapat 8 (delapan) makam Bupati tempo dulu yang pernah menjabat di Kabupaten Blora dari Tahun 1762-1925. Untuk mengenang jasa-jasanya setiap tahun diadakan upacara ziarah yang berkaitan dengan Peringatan Hari Jadi Kabupaten Blora pada tanggal 11 Desamber. Adapun Bupati yang dimakamkan di Makam Ngadipurwo adalah: R.T. JAYENG TIRTONOTO, yaitu Bupati Blora Timur yang memerintah Tahun 1762-1782 pada masa Bupati kembar, yaitu R. WILOTIKTO di Blora Barat, tetapi kemudian R.T. WILOTIKTO menyerahkan kekuasaannya kepada R.T. JAYENG TIRTONOTO karena R. WILOTIKTO dipindahkan oleh ayahandanya di Kabupaten Pati. Dengan demikian sejak saat itu R.T. JAYENG TIRTONOTO memrintah sepenuhnya di Kabupaten Blora R.T. PRAWIROYUDO, yaitu Bupati Blora yang memerintah pada Tahun 1821-1823 R.T. WIRTONEGORO III, Bupati Blora yang memerintah pada Tahun 1823-1842 Bupati JOYONEGORO ( putra Bupati Bojonegoro) R.M.T.A. COKRONEGORO I, Bupati Blora yang memerintah pada Tahun 1842 ( hanya 7 Bulan) R.M.T.A. COKRONEGORO, Bupati Blora yang memerintah pada Tahun 1857-1885 R.M.T.A. COKRONEGORO III, Bupati Blora yang memerintah pada Tahun 1886-1908 R.M. SAID ABDUL KODIR, Bupati Blora yang memerintah pada Tahun 1908-1925.

MAKAM SUNAN POJOK
Makam Sunan Pojok terletak di jantung Kota Blora, tempatnya di sebelah Selatan alon-alon Kota Blora. Dari data yang diperoleh bahwa makam Sunan Pojok adalah makam SUROBAHU ABDUL ROHIM,

WISATA ALAM BLORA


GOA TERAWANG
Goa Terawang merupakan obyek wisata alam, terbentuk di daerah endapan batu Gamping Pegunungan Kapur Utara berumur + 10 juta tahun. Terletak di Desa Kedungwungu Kecamatan Todanan kawasan Hutan KPH Blora + 35 Km. arah Barat Kota Blora. Goa Terawang mempunyai panjang alur/terawang terpanjang + 180 m dengan kedalaman 5-11 m dibawah permukaan tanah. Didalamnya terdapat stalakmit dan stalaktit yang sangat indah dan menawan. Di kawasan ini pula terdapat beberapa goa-goa yang tidak kalah menariknya, antara lain goa Kidang, Goa Suru, Goa Manuk, dll.
 
WADUK BENTOLO
Waduk Bentolo juga terletak tidak jauh dari lokasi Goa Terawang. Waduk Bentolo disamping sebagai obyek wisata juga digunakan sebagai irigasi lahan pertanian, di kawasan ini pula terdapat Bumi Perkemahan yang sangat luas dan dikenal dengan nama Bumi Perkemahan Pancasona.

PEMANDIAN SAYURAN
Pemandian Sayuran terletak didaerah perbukitan di Desa Soko Kecamatan Jepon + 14 Km. ke arah Timur Laut Kota Blora. Berhawa sejuk dan mempunyai pemandangan yang indah. Pemandian Sayuran dibangun dengan standart nasional, dan dilengkapi dengan pemandian khusus anak-anak. Diatas pemandian sayuran terdapat Padepokan.

Asal mula Cepu


     Disebutkan saudara-saudara pangeran benawa yang berada di luar kadipaten panolan, yaitu pangeran giri kusuma dan Pangeran Giri Jati bersepakat mengadakan pemberontakan. Maksud dan tujuan dari perbuatan tersebut adalah untuk member pelajaran kepada Pangeran Benawa yang sudah tidak bisa diberi pengertian akan perbuatan kurang terpuaji yang dilakukannya. Aksi pemberontakan pun segera dilancarkan.
      Pasukan Kadipaten Panolan yang dipimpin langsung oleh Pangeran Benawa sudah sampai di tepi sungai sala. Akan tetapi baru mau bergerak lebih lanjut, pasukan gabungan yang dipimpin oleh Pangeran Giri kusuma dan Giri Jati sudah siap memukulnya. Akhirnya Pangeran Benawa terkurung dalam lembah yang dalam dan berlumpur.
     Pangeran Benawa tidak dapat bergarak karena kakinya terbenam dalam lumpur panas sampai diatas lutut (sadhuwuring pupu). Oleh karena itu tempat tersebut kemudian diberi nama Cepu, berasal dari kata ‘mancep sepupu’ .

Legenda Aria Penangsang

       Aria Penangsang adalah seorang keturunan Raja Demak, cucu Sultan Trenggono, Raja Demak yang berkuasa dari tahun 1521-1546 M. Aria penangsang putra dari anak tertua Sultan Trenggono, yang oleh karena beliau mati terbunuh di sungai maka disebut Pangeran Seda Lepen. Menurut beberapa sumber, Sultan Trenggono mempunyai 5 putra, yaitu:
1.   Pangeran Seda Lepen
2.   Pangeran Ratu (Sunan Prawata)
3.   Pangeran Jipang
4.   Ratu Arya Jepara (Ratu Kalinyamat)
5.   Ratu Sedeng Laut

       Sultan Trenggono meninggal mendadak pada tahun 1546 M, pada saat melakukan ekspedisi ke Panarukan. Sepeninggal Sultan Trenggono, di demak terjadi perebutan kekuasaan sehingga jatuh banyak korban di lingkungan keluarga istana. Korban pertama adalah Pangran Seda Lepen, putra tertuan Sultan Trenggono, ayah Arya Penangsang, yang dibunuh atas perintah Pangeran Prawata, yaitu pputra kedua Sultan Trenggono.
Arya Penangsang
       Sepeninggal Pangeran Seda Lepen, Pangeran Prawata menjadi anak laki-laki tertua Sultan Trenggono sehingga dialah yang berhak naik tahta menggantikan kedudukan ayahnya menjadi Raja Demak. Anak Pangeran Seda Lepen, yang bernama Arya Penangsang tidak terima ataskematian ayahnya. Dian menuntut balas atas kematian ayahnya, lalu membunuh Sultan Prawata beserta istrinya. Arya Penangsang juga membunuh pamannya, suami bibinya yang tinggal di kalinyamat (jepara) yang dikenal dengan nama Pangeran Kalinyamat.

Asal Usul Nama Blora

      Asal usul nama Blora dan artinya sampai sekarang belum jelas. Menurut cerita rakyat, kata "blora" berasal dari kata 'belor' yang artinya 'lumpur' atau 'tanbecekah '. Selanjutnya kata 'belor' berkembang menjadi 'beloran' atau 'mbeloran' yang juga berarti 'tanah berlumpur'. Dalam perkembangan selanjutnya, kata 'beloran' atau 'mbeloran' diucapkan dengan kata 'bloran' atau 'mbloran'. Kata tersebut biasanya dipergunakan untuk menyebut nama suatu tempat yang mempunyai spesifikasi atau ciri-ciri seperti berikut. akan tetapi sampai saat ini tidak ada desa di Kabupaten Blora yang namanya menunjukkan ke arah pengertian tersebut (Riyanto, dkk: 1987 : 4).
        Cerita lain menyebutkan bahwa nama 'Blora' berasal dari kata 'belo lara' (anak kuda sakit), yaitu seekor anak kuda tunggang yang dihadiahkan oleh Asisten Residen Rembang kepada senopati Ngadi yang telah berhasil memadamkan pemberontakan Naya Gimbal/ Naya Sentika sehingga dia diangkat menjadi bupati karangjati yang semula hanya berupa kawedanan. adapun ceritanya adalah sebagai berikut