Tertawa
yang wajar itu laksana “balsem” bagi kegalauan dan “salep” bagi
kesedihan. Pengaruhnya sangat kuat sekali untuk membuat jiwa bergembira
dan hati berbahagia. Bahkan Rasululah Muhamad sendiri sesekali tertawa
hingga tampak gerahamnya. Begitulah tertawanya orang-orang yang
berakal dan mengerti tentang penyakit jiwa serta pengobatannya.Tertawa merupakan puncak kebahagiaan, titik tertinggi keceriaan dan ujung dari rasa suka cita. Namun demikian itu adalah tertawa yang tidak berlebihan sebagaimana di katakan dalam pepatah “janganlah engkau banyak tertawa, sebab tertawa itu bisa mematikan hati” jadi tertawalah tapi yang sewajarnya saja.
